Laman

Cari Blog Ini

Kamis, 04 November 2010

Pengelolaan Sampah Terpadu di Banjarsari, Cilandak, Jakarta Selatan

Pengelolaan Sampah Terpadu di Banjarsari, Cilandak, Jakarta Selatan
GAMBARAN INFORMASI
Pada tahun 1992, saat Harini Bambang, yang baru-baru ini menarik perhatian masyarakat nasional dan internasional, mulai terdorong untuk menghijaukan lingkungan tempat tinggalnya di Kelurahan Cilandak Barat, Kecamatan Cilandak, Jakarta Selatan, persis di dekat Jalan Fatmawati yang padat lalu-lintasnya. Sedangkan Banjarsari adalah nama sebuah RW (Rukun Warga). Usaha yang dilakukannya memang kecil tapi mampu menarik tetangganya untuk mengikutinya dengan membentuk suatu kelompok masyarakat yang dikenal dengan nama Banjarsari dan terus berkembang tanpa nama resmi. Sekarang kelompok ini mempekerjakan enam orang pegawai, termasuk ketuanya, Harini Bambang; wakil ketua, Nina Saleh; empat kader lingkungan terlatih (yang melaksanakan kegiatan peningkatan kesadaran lingkungan di tingkat masyarakat); dan dua orang relawan.

URAIAN KEGIATAN
Motif: Seiring dengan meningkatnya populasi masyarakat, timbulan sampah juga ikut meningkat tajam dan berpotensi mencemari lingkungan. Disisi lain, fasilitas, kapasitas dan kinerja aparat pengelola sampah masih terbatas. Tingkat kesadaran masyarakat akan pengelolaan sampah juga masih tergolong rendah, dimana paradigma lama (‘kumpul – angkut – buang’) masih melekat cukup kuat sulit dirubah. Kondisi memprihatikan ini memicu Harini Bambang untuk mewujudkan mimpi lamanya untuk tinggal di lingkungan yang bersih dan hijau.
Kegiatan: Kegiatan kelompok ini bersifat sederhana dan langsung. Dengan tujuan lingkungan tempat tinggalnya bebas dari sampah dan penuh tanaman, Harini Bambang mendorong tetangganya untuk mengurangi, memanfatkan kembali dan mendaur-ulang sampah, pengomposan sampah organik, serta menanam pohon. Pada awalnya, dia mengalami kesulitan dalam menjelaskan niatnya karena beberapa tetangganya buta huruf, dan beberapa lainya buta sama sekali mengenai penghijauan, dan beberapa lagi tidak mempunyai pengetahuan dasar mengenai kesehatan. Akhirnya dia memutuskan untuk melakukan pendekatan pribadi secara berhati-hati agar kegiatannya dapat disesuaikan dengan kebutuhan perorangan. Rutinnya pertemuan yang dilakukan membangkitkan kepercayaan tetangganya, yang mendasari langkah selanjutnya dalam kegiatan lingkungan.
Setelah mengamati kegiatan positif yang dilakukan Harini dan masyarakatnya, pada tahun 1996 UNESCO memilih Banjarsari sebagai lokasi proyek percontohan pengelolaan limbah rumah-tangga, dengan penekanan pada konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) atau dalam kenyataanya 4R (dengan tambahan Replanting atau penghijauan). Dengan bantuan fasilitas dan dana dari UNESCO, dia membentuk kelompok inti (kader lingkungan) yang akan menyebarkan kegiatannya ke masyarakat lain di kelurahan yang sama. Selain itu, diberikan juga pelatihan daur ulang sampah oleh Yayasan Kirai dan WALHI, sebuah LSM lokal. Kampung Banjarsari tetap melakukan penghijauan dan pengelolaan sampah meskipun sudah dilepas oleh UNESCO.
Saat ini, Harini Bambang dan para kadernya secara rutin mengadakan pelatihan ke seluruh Indonesia yang diprakarsai oleh instansi terkait untuk pembentukan ‘sub-kader’ yang diharapkan menjadi pemimpin masyarakat, mengembangkan pola edukasi pengelolaan sampah terpadu, membudi-dayakan TOGA (Tanaman Obat Keluarga) dan pendampingan bagi mahasiswa paska sarjana untuk bahan pembelajaran mengenai lingkungan dan kesehatan.
Hasil: Kegiatan pengomposan dan daur ulang sampah anorganik yang dilakukan mampu menurunkan volume sampah yang dibuang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) hingga 50%. Kegiatan tersebut juga membuka peluang untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dengan menjual kompos, produk daur ulang, seperti taplak meja dari sedotan, bunga plastik, bingkai foto. Selain mengolah sampah, masyarakat juga menanam tanaman obat untuk penghijauan lingkungan. Pada awalnya tanaman obat yang ditanam berjumlah 20 jenis dan sekarang mencapai hingga 150 jenis. Pelatihan-pelatihan yang dilakukan telah berhasil melahirkan kader-kader lingkungan baru sebanyak 55 orang (25 wanita dan 30 remaja). Pola hidup masyarakat kini berubah, dimana 60% warga Banjarsari telah mengikuti pola hidup yang sehat dan ramah lingkungan.
Usaha dan aktivitas yang dilakukan warga Banjarsari telah membawa wilayah Banjarsari sebagai sekolah dan laboratorium pengelolan sampah terpadu bagi pelajar, tokoh masyarakat, anggota DPR/DPRD, bahkan tamu mancanegara. Pada tahun 2000, Dinas Pariwisata menetapkan Banjarsari sebagai daerah tujuan wisata.
Atas kerja keras yang dilakukan, Harini Bambang dinobatkan sebagai penyelamat lingkungan. Kampung Banjarsari sendiri telah menerima banyak penghargaan, diantaranya Kalpataru (2001), Juara II piala Adipura (2007), dan taman gantung di salah satu rumah memenangkan Juara I lomba penghijauan lingkungan permukiman.

FAKTOR PENDUKUNG
Kondisi kritis pengelolaan sampah di Ibukota Indonesia telah banyak memicu tindakan lokal. Sementara tindakan-tindakan tersebut sering tidak berlanjut, Banjarsari dalam hal ini merupakan pengecualian karena keberlanjutan kegiatannya. Ini sebagian besar karena tujuan Harini sederhana saja, yakni mewujudkan keselarasan hubungan antara manusia dan lingkungan, yang mudah diterima oleh masyarakat setempat dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Penyebaran kegiatan oleh Harini ke masyarakat, melalui kader, berjalan sangat efektif dalam mengembangkan tujuannya. Bantuan dari pemerintah (KLH, Departemen Pertanian, Dinas Kebersihan, PU), lembaga nasional dan internasional memberikan pengaruh yang sinergis dan membuat pembinaan kader menjadi semakin efektif.    
 
TANTANGAN
Tidak semua warga masyarakat berpartisipasi karena mereka sibuk atau acuh-tak-acuh. Perlu waktu lama untuk mengubah sikap mereka, sementara itu penting sekali mempertahankan momentum kegiatan walau tanpa kemajuan nyata.
Kurangnya dana menghambat kelancaran kegiatan. Anggaran tahunan kegitan tidak lebih besar dari Rp. 50 juta, meskipun mendapat dukungan dari UNESCO. Namun, pengumpulan dana melalui penjualan produk daur-ulang dan kompos, iuran anggota dan iuran pelatihan telah menjadi sumber pendapatan tetap, dan ini membuat kelompok masyarakat ini mampu menopang dirinya sendiri. 

KONTAK INFORMASI
Nama : Harini Bambang Wahono
Alamat : Jl. Banjarsari XIV No. 4A RT.007/08, Cilandak Barat, Jakarta Selatan, 12430
Telepon : (021) 7691301
Fax : (021) 7513395
E-mail : -
Homepage : -

1 komentar: